Orang Tua Terlalu Fokus ke Sosial Media, Padahal Chatbot AI Diam-Diam Mengancam Anak

Pahamtekno.com - Selama beberapa tahun terakhir, diskusi tentang keamanan anak di dunia digital hampir selalu berpusat pada media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Orang tua sibuk membatasi waktu menonton, memantau konten video, dan mengawasi akun media sosial anak.

Namun, fokus tersebut mulai tertinggal oleh perkembangan teknologi yang jauh lebih cepat. Saat perhatian publik masih tertuju pada TikTok, sebuah ancaman baru tumbuh secara senyap chatbot berbasis kecerdasan buatan atau chatbot AI.

Ancaman yang Tidak Terlihat, Tapi Sangat Dekat

Berbeda dengan media sosial yang menampilkan konten secara terbuka, chatbot AI bekerja secara personal dan tertutup. Percakapan terjadi satu lawan satu, tanpa pengawasan, tanpa jejak yang mudah dilihat orang tua.

Inilah yang membuat chatbot AI jauh lebih berisiko bagi anak. Anak tidak sekadar mengonsumsi konten, tetapi membangun hubungan dengan teknologi. Dalam banyak kasus, anak merasa sedang berbicara dengan “teman” yang selalu ada, selalu mendengarkan, dan tidak pernah menghakimi.

Dari sudut pandang perkembangan psikologis, kondisi ini berbahaya. Anak belum memiliki kemampuan untuk memahami bahwa empati yang ditampilkan chatbot bukanlah empati manusia, melainkan respons algoritma.

Ilusi Hubungan Sosial dengan Mesin

Penelitian terbaru Kim et al. (2025) menunjukkan bahwa anak-anak cenderung memanusiakan chatbot AI. Mereka percaya chatbot memiliki perasaan, niat baik, bahkan kepedulian. Dalam dunia anak, batas antara manusia dan mesin menjadi kabur.

Ketika anak mulai mempercayai chatbot sebagai tempat curhat utama, risiko ketergantungan emosional tidak dapat dihindari. Anak bisa kehilangan kesempatan belajar menghadapi konflik, perbedaan pendapat, dan dinamika emosi nyata yang seharusnya mereka alami dalam interaksi sosial sehari-hari.

Misinformasi yang Terlihat Meyakinkan

Masalah lain yang sering diabaikan adalah akurasi informasi. Chatbot AI dirancang untuk terdengar meyakinkan, bukan untuk menjamin kebenaran.

Bagi orang dewasa, mungkin mudah untuk bersikap kritis. Namun bagi anak, jawaban chatbot sering dianggap sebagai kebenaran absolut. Studi Yu et al. (2025) menegaskan bahwa AI generatif dapat memberikan informasi yang salah, bias, atau tidak sesuai usia, tanpa disadari oleh pengguna muda.

Dalam konteks ini, chatbot AI bukan hanya alat bantu belajar, tetapi juga sumber risiko kognitif yang serius.

Mengapa Chatbot AI Bisa Lebih Berbahaya dari Media Sosial?

Media sosial bersifat pasif anak menonton, menyukai, atau membagikan konten. Chatbot AI bersifat aktif dan adaptif. Ia merespons emosi, mengikuti alur percakapan, dan menyesuaikan jawaban dengan kondisi pengguna.

Laporan UNICEF Innocenti (Vosloo & Aptel, 2025) menyebutkan bahwa kemampuan AI untuk membangun dialog berkelanjutan membuat dampaknya terhadap anak jauh lebih dalam dibandingkan konsumsi konten media sosial.

Singkatnya, jika media sosial memengaruhi apa yang anak lihat, chatbot AI memengaruhi cara anak berpikir dan merasakan.

Tantangan Besar bagi Orang Tua dan Sekolah

Sayangnya, banyak orang tua belum menyadari bahwa anak mereka menggunakan chatbot AI. Tidak ada notifikasi mencolok, tidak ada video viral, dan tidak ada tanda bahaya yang langsung terlihat.

Padahal, pengawasan pasif tidak lagi cukup. Orang tua perlu memahami teknologi yang digunakan anak, berdiskusi secara terbuka, dan menanamkan pemahaman bahwa tidak semua jawaban dari teknologi dapat dipercaya.

Sekolah pun tidak boleh tertinggal. Literasi AI harus menjadi bagian dari pendidikan digital, bukan hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risikonya.

Jangan Menunggu Dampak Terjadi

Chatbot AI bukan teknologi yang harus ditakuti, tetapi juga tidak boleh digunakan tanpa kendali, terutama oleh anak-anak.

Jika pengawasan hanya terfokus pada TikTok dan media sosial, kita sedang mengabaikan ancaman yang lebih halus namun lebih dalam. Tanpa kesadaran, edukasi, dan kebijakan yang tepat, chatbot AI berpotensi membentuk generasi yang tumbuh dengan ketergantungan emosional pada mesin.

Sudah saatnya orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan memandang chatbot AI sebagai isu serius dalam perlindungan anak di era kecerdasan buatan.

Referensi

  • Kim, P., Chin, J. H., Xie, Y., Brady, N., Yeh, T., & Yang, S. (2025). Young children’s anthropomorphism of AI chatbots and the role of parent co-presence. arXiv.
  • Yu, Y., Liu, Y., Zhang, J., Huang, Y., & Wang, Y. (2025). Understanding generative AI risks for youth: A taxonomy based on empirical data. arXiv.
  • Vosloo, S., & Aptel, C. (2025). Beyond algorithms: Three signals of changing AI-child interaction. UNICEF Innocenti.

0 Comments