Pahamtekno.com - Selama bertahun-tahun, pembicaraan tentang keamanan anak di dunia digital hampir selalu mengarah ke satu hal media sosial. Nama-nama seperti TikTok, Instagram,dan YouTube disebut sebagai ancaman utama bagi perkembangan anak. Orang tua diajak membatasi screen time, memantau konten video, dan mengawasi pertemanan digital.
Namun, di tengah fokus besar tersebut, sebuah teknologi baru berkembang dengan cepat dan nyaris tanpa perdebatan publik yang sepadan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau chatbot AI. Padahal, teknologi ini mulai digunakan anak-anak secara aktif, personal, dan sering kali tanpa sepengetahuan orang tua.
Pertanyaannya menjadi relevan mengapa isu chatbot AI untuk anak belum banyak dibahas dibanding media sosial?
Ancaman yang Tidak Menarik Perhatian Publik
Salah satu alasan utama adalah sifat chatbot AI yang tidak mencolok. Media sosial bersifat visual dan terbuka. Ketika muncul konten bermasalah, dampaknya bisa langsung viral dan memicu reaksi publik. Video, komentar, atau tren tertentu dengan mudah menjadi bahan diskusi nasional.
Chatbot AI bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Interaksi terjadi secara privat, satu lawan satu, tanpa linimasa publik dan tanpa konsumsi massal. Tidak ada konten yang bisa dibagikan, tidak ada video yang bisa diprotes bersama-sama.
Karena itulah, penggunaan chatbot AI oleh anak sering luput dari radar sosial. Ancaman yang tidak terlihat jarang dianggap sebagai ancaman serius.
Masih Dipersepsikan sebagai Teknologi “Pintar dan Aman”
Banyak orang tua memandang chatbot AI sebagai alat bantu belajar. AI diasosiasikan dengan kecerdasan, produktivitas, dan kemajuan teknologi. Anak yang menggunakan chatbot AI sering dianggap sedang belajar, bukan bermain.
Persepsi ini sangat berbeda dengan media sosial yang sejak awal dikaitkan dengan hiburan dan distraksi. Akibatnya, chatbot AI jarang dicurigai, meskipun fungsinya jauh lebih interaktif dan personal.
Padahal, chatbot AI tidak dirancang khusus untuk mendampingi perkembangan psikologis anak. Ia merespons berdasarkan data dan pola bahasa, bukan pemahaman moral atau empati manusia.
Dampak Psikologis yang Bersifat Halus dan Jangka Panjang
Media sosial sering dikritik karena dampaknya yang terlihat langsung, seperti kecanduan, cyberbullying, atau penurunan konsentrasi belajar. Masalah-masalah ini mudah diamati secara kasat mata.
Sebaliknya, chatbot AI membawa risiko yang lebih halus. Anak tidak hanya membaca atau menonton, tetapi berbicara dan membangun relasi. Dalam beberapa kasus, anak mulai menganggap chatbot sebagai teman, pendengar, atau tempat curhat utama.
Ikatan emosional semacam ini tidak langsung menimbulkan masalah perilaku, namun dapat memengaruhi cara anak memahami hubungan sosial, kepercayaan, dan emosi.
Rendahnya Literasi AI di Kalangan Orang Dewasa
Banyak orang tua belum memahami cara kerja AI generatif. Istilah seperti algoritma, data pelatihan, atau model bahasa terdengar teknis dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Ketika teknologi tidak dipahami, risikonya pun sulit dibicarakan. Media sosial lebih mudah dikritisi karena hampir semua orang pernah menggunakannya secara langsung.
Chatbot AI, sebaliknya, sering dianggap terlalu “canggih” untuk diperdebatkan secara kritis di ruang publik.
Regulasi yang Masih Tertinggal
Media sosial telah lama menjadi objek penelitian, regulasi, dan kampanye literasi digital. Sementara itu, chatbot AI masih berada di wilayah abu-abu antara inovasi teknologi dan alat edukasi.
Belum banyak kebijakan yang secara spesifik mengatur interaksi anak dengan chatbot AI. Tanpa tekanan publik, isu ini belum menjadi prioritas bagi pembuat kebijakan.
Mengulang Kesalahan yang Sama
Jika melihat ke belakang, situasi ini sangat mirip dengan masa awal media sosial. Dulu, platform tersebut juga dianggap aman, kreatif, dan penuh peluang. Dampak negatifnya baru disadari setelah jutaan anak terlanjur tumbuh di dalamnya.
Chatbot AI berpotensi mengulangi pola yang sama, dengan bentuk ancaman yang lebih personal dan sulit terdeteksi.
Saatnya Memperluas Percakapan Publik
Chatbot AI bukan musuh, tetapi juga bukan teknologi netral. Cara anak berinteraksi dengan AI hari ini akan memengaruhi cara mereka berpikir, merasa, dan membangun relasi di masa depan.
Jika diskusi perlindungan anak hanya berhenti pada media sosial, kita berisiko mengabaikan tantangan yang justru sedang tumbuh di depan mata.
Sudah saatnya orang tua, pendidik, media, dan pembuat kebijakan memandang chatbot AI sebagai bagian serius dari isu perlindungan anak di era kecerdasan buatan.

0 Comments